Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makalah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 April 2011

(KODE : PASCSARJ-0091) : TESIS PERILAKU MASYARAKAT TERKAIT LINGKUNGAN PERDESAAN (PRODI : PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Sejak dicanangkan menjelang
akhir 1980an, pembangunan
berkelanjutan muncul sebagai
konsep penting. Banyak
negara mengadopsinya untuk
memandu proses pembangunan, terutama yang
menyangkut pemanfaatan
sumberdaya alam. Paradigma
dasar dari pembangunan
berkelanjutan adalah tidak
hanya pembangunan yang berorientasikan kepada
produksi semata, tetapi
membangun sebuah kawasan
secara keseluruhan yang
meliputi juga aspek sosial dan
lingkungan. Paradigma pembangunan berkelanjutan
sesungguhnya merupakan
perpaduan dari kesejahteraan
masyarakat dan kelestarian
lingkungan hidup. Dalam
konsep pembangunan berkelanjutan, pencapaian
tujuan-tujuan ekonomi harus
selaras dengan tujuan sosial
maupun kepentingan
lingkungan. Selain itu,
kepentingan antar kelompok masyarakat dan antar
generasi mendapat perhatian
besar (Bruntdland, 1988).
Kelestarian lingkungan
merupakan pilar penting
dalam pembangunan berkelanjutan. Pelestarian
lingkungan dimaksudkan
untuk melindungi
kemampuan lingkungan
hidup terhadap tekanan
perubahan dan atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh
suatu kegiatan (Wiyono, 2007)
. Terdapat beberapa cara
pandang yang menjelaskan
hubungan antara manusia dan
lingkungannya. Cara pandang tersebut sangat
mempengaruhi tindakan
seseorang terhadap
lingkungan. Menurut cara
pandang lingkungan, manusia
adalah subordinat dan seluas- luasnya diatur oleh
lingkungan. Cara pandang
teologi, menekankan bahwa
manusia adalah superior
terhadap lingkungan dan
manusia mempunyai hak untuk mengatur semua aspek
lingkungan. Kedua cara
pandang ini adalah cara
pandang yang ekstrem
sehingga seolah-olah manusia
dan lingkungan (alam sekitar) diposisikan sebagai pihak
yang bertentangan. Jalan
tengah dari dari dua posisi
tersebut adalah dari cara
pandang ekologi yang
mempercayai bahwa manusia adalah bagian yang integral
dari alam, adalah hubungan
manusia dan lingkungannya
seharusnya merupakan
hubungan yang simbiotik dan
tidak mengeksploitasi. (Muchlis, 2006),
Dalam cara pandang ekologi,
manusia bertanggung jawab
untuk mengatur alam sekitar
dengan seadil-adilnya.
Bagaimana seseorang mengambil keputusan untuk
mengatur lingkungannya
akan terpulang kepada cara
pandang yang dia anut.
Keputusan yang diambil akan
menimbulkan dampak balik kepada manusia, oleh itu
diperlukan pengetahuan dan
kesadaran serta sikap yang
memadai tentang lingkungan.
Dalam kaitan ini, pemeliharaan
kemampuan lingkungan untuk mendukung penduduk
dan kegiatannya adalah suatu
keharusan. Dalam konteks
Indonesia, Undang-undang
Nomor 23 Tahun tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Undang-undang Nomor 26
Tahun 2007 tentang Penataan
ruang berupaya untuk
mewujudkan keberlanjutan
pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan
(termasuk ruang). Perhatian
terhadap perbaikan
lingkungan merupakan aspek
penting dalam upaya tersebut.
Dalam memenuhi kebutuhan dasarnya, manusia berupaya
untuk memanfaatkan sumber
daya alam dan
lingkungannya. Kegiatan
tersebut secara langsung
maupun tidak langsung berpengaruh pada kualitas
lingkungan. Kebutuhan dasar
manusia yang harus dipenuhi
terbentur dengan
keterbatasan kemampuan
lingkungan untuk menyediakannya. Hubungan
yang tidak seimbang ini
menyebabkan perubahan
lingkungan yang pada
akhirnya akan berdampak
balik pada manusia itu sendiri. Perbaikan lingkungan
merupakan hal yang esensial
dalam mengelola perubahan
lingkungan, namun pada
umumnya masyarakat
banyak yang kesulitan untuk memahaminya. Pemahaman
masyarakat terhadap
lingkungan dibentuk oleh
aneka ragam situasi
kemasyarakatan. Masyarakat
perkotaan memandang lingkungan sebagai
pendukung aktifitas,
sedangkan masyarakat
perdesaan memandang
lingkungan sebagai penyedia
utama kebutuhan dasar mereka seperti kebutuhan
pangan. Perbedaan
pemahaman tersebut
menentukan perilaku
masyarakat terhadap
lingkungannya. Terlepas dari perbedaan
tersebut, pemahaman
pentingnya perbaikan
lingkungan perlu ditanamkan
sehingga masyarakat bersedia
untuk melakukan upaya individual maupun kolektif
untuk memelihara bahkan
meningkatkannya.
Pemahaman terhadap
pentingnya perbaikan
lingkungan dan kesediaan untuk memperbaiki
lingkungan merupakan salah
satu bentuk perilaku
masyarakat. Perilaku
masyarakat merupakan
resultansi dari berbagai kondisi, baik kondisi internal
maupun eksternal dan
merupakan refleksi dari
pengetahuan, kesadaran dan
sikap positif terhadap
lingkungan. Perbaikan lingkungan sangat
diperlukan di Bandung
Selatan. Kawasan Bandung
Selatan memiliki penduduk
sekitar 1,5 juta jiwa yang
sebagian besar hidup dari industri pengolahan, pertanian
dan perdagangan. Pertanian
tanaman pangan, perkebunan
dan peternakan merupakan
kegiatan dominan di wilayah
yang penduduknya mayoritas berpendidikan sekolah dasar.
Kawasan ini juga memiliki
tempat wisata yang cukup
atraktif bagi pengunjung dari
luar. Kawasan ini terdiri dan
gunung dan perbukitan yang menuntut kehati-hatian dalam
pemanfaatan dan pengelolaan
sumberdaya alam dan
lingkungan. Kombinasi curah
hujan dan kemiringan lahan
yang tinggi, populasi yang banyak serta budidaya
sayuran dan tanaman pangan
yang intensif sangat potensial
untuk menimbulkan
kemerosotan daya dukung
lingkungan di kawasan yang menjadi daerah belakang
(hinterland) Kota Bandung ini.
Kawasan yang merupakan
bagian dan Daerah Aliran
Sungai Citarum ini juga
menjadi konsentrasi industri tekstil yang menjadi beban
berat lingkungan karena
kebutuhan air yang besar.
Tanda-tanda penurunan
kualitas lingkungan yang di
permukaan muncul sebagai masalah kekurangan air,
polusi, erosi dan sedimentasi
sudah terjadi di kawasan ini.
Penurunan kualitas
lingkungan akan menurunkan
kualitas hidup masyarakat perdesaan maupun kota-kota
kecil (Banjaran, Majalaya,
Soreang, Ciwidey dan Ciparay)
di kawasan ini.
Perbaikan lingkungan yang
tepat mendesak untuk dilakukan di Bandung Selatan.
Dalam kaitan ini, masyarakat
memerlukan kerangka tindak
perbaikan yang sesuai.
Kerangka semacam ini belum
dimiliki oleh masyarakat di kawasan ini. Mengingat
kompleksitas permasalahan
yang menyangkut
lingkungan sehingga
perumusan kerangka tindak
memerlukan kajian cermat. Salah satu bentuk kajian
sebagai langkah awal dalam
penyusunan kerangka tindak
perbaikan lingkungan di
Bandung Selatan ini adalah
kajian mengenai perilaku masyarakat itu sendiri. Kajian
mengenai perilaku
masyarakat di Bandung
Selatan ini diharapkan mampu
memberikan gambaran
mengenai pengetahuan dan sikap masyarakat tentang
pentingnya perbaikaan
lingkungan serta bagaimana
mereka melakukan tindakan
nyata (practice). Belum
adanya kajian mengenai perilaku masyarakat di
Bandung Selatan inilah yang
menjadi latar belakang
dilakukannya penelitian ini. 1.2. Identifikasi Masalah Sebagian besar wilayah
Bandung Selatan memiliki
karakteristik
perdesaan.Lingkungan
perdesaan di Bandung Selatan
ini ternyata memiliki masalah lingkungan yang cukup
kompleks, hal ini selain
disebabkan oleh faktor alam
juga berkaitan erat dengan
aktivitas manusia yaitu
kegiatan ekonomi masyarakat serta populasi
masyarakat yang terus
berkembang sehingga
menciptakan perubahan
lingkungan. Kompleksitas
permasalahan yang menyangkut lingkungan ini
tentunya memerlukan
tindakan individual dan
kolektif masyarakat untuk
memperbaikinya
Tindakan masyarakat terhadap lingkungan
merupakan bagian dari
perilaku masyarakat. Perilaku
masyarakat Bandung Selatan
terhadap lingkungannya
dipengaruhi oleh perubahan lingkungan yang terjadi.
Masyarakat yang berada di
bantaran sungai seperti Sungai
Citarum berperilaku
berdasarkan pemahaman
masyarakat terhadap fungsi sungai serta dipengaruhi oleh
kondisi eksternal sebagai
stimulus (rangsangan).
Pemahaman yang salah
terhadap fungsi sungai lalu
didorong oleh keterbatasan fasilitas kesehatan lingkungan
akan berdampak pada
perilaku masyarakat yang
kurang memperhatikan
kualitas lingkungan.
Begitupun perilaku masyarakat di kawasan lain
(seperti kawasan pertanian
dan peternakan, kawasan
lahan kritis dan kawasan
lainnya yang terkait
lingkungan) ditentukan juga oleh bagaimana masyarakat
merespon kondisi eksternal
lingkungan (sebagai stimulus).
Keterkaitan antara
masyarakat dengan kondisi
eksternal lingkungan akan menciptakan perilaku
konstruktif maupun
destruktif terhadap
lingkungan. Ada beberapa
masalah utama lingkungan
perdesaan di Bandung Selatan yaitu banjir, erosi, sampah
rumah tangga dan limbah
peternakan maupun
pertanian. Beberapa masalah
lingkungan tersebut masih
belum bisa diselesaikan oleh masyarakat baik secara
individual maupun kolektif.
Salah satu penyebabnya
adalah perbedaan respons
(tanggapan) masyarakat
terhadap masalah lingkungan itu sendiri. Perbedaan yang
timbul merupakan resultansi
dari interaksi antara kondisi
internal dengan eksternal.
Kondisi internal merupakan
latar belakang masyarakat sedangkan kondisi eksternal
bisa bersifat institusional
maupun non-institusional.
Oleh sebab itu, kajian
mengenai perilaku
masyarakat terkait lingkungan perdesaan perlu
dilakukan agar dorongan dan
hambatan yang terkait
dengan perilaku masyarakat
bisa diidentifikasikan. Belum
adanya informasi mengenai perilaku terkait lingkungan
perdesaan menjadi
argumentasi kuat dilakukan
studi ini. Informasi tersebut
bisa dimanfaatkan dalam
proses perbaikan lingkungan perdesaan seperti peningkatan
pengetahuan tentang
lingkungan dan
pengorganisasian masyarakat
yang diharapkan mampu
mendorong kolektifitas dan koordinasi dalam bertindak
Proses perbaikan lingkungan
yang efektif akan
menciptakan kelestarian
lingkungan. Kondisi inilah
yang diharapkan muncul sebagai salah satu prasyarat
pembangunan perdesaan
berkelanjutan. 1.3. Batasan Masalah Mengingat luasnya
permasalahan yang
menyangkut lingkungan,
kajian ini akan difokuskan
pada kawasan perdesaan.
Kawasan ini memerlukan pengkajian tersendiri karena
rumitnya permasalahan
perdesaan seperti tekanan
jumlah penduduk,
kemiskinan, keterbatasan
pengetahuan dan teknologi dan Iain-lain. Kemudian
berdasarkan pertimbangan
waktu, tenaga, kemampuan
peneliti dan supaya penelitian
dapat dilakukan secara
mendalam, pembahasan dalam studi ini dibatasi pada perilaku
masyarakat berdasarkan
kajian teori behavioristik
yang memandang individu
sebagai makhluk reaktif yang
memberi respon terhadap stimulus (rangsangan) dari
lingkungan eksternal. 1.4. Perumusan Masalah Dari identifikasi dan batasan
masalah tersebut di atas maka
perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana perilaku masyarakat dalam merespon
stimulus masalah lingkungan
perdesaan?
2. Sejauhmana keterkaitan
latar belakang masyarakat
dengan respon yang terjadi? serta dorongan dan hambatan
apa yang muncul?
3. Rekomendasi apa untuk
merumuskan tindak kolektif
masyarakat untuk
memperbaiki lingkungan perdesaan? 1.5. Tujuan dan Sasaran Tujuan dilakukan studi ini
adalah mengidentifikasi
bentuk respon pasif dan aktif
dari stimulus masalah
lingkungan perdesaan yang
dipengaruhi oleh kondisi internal individu serta
dorongan dan hambatan
eksternal, dengan sasaran
sebagai berikut:
1. Teridentifikasinya masalah
lingkungan perdesaan sebagai stimulus (rangsangan)
perilaku masyarakat.
2. Teridentifikasinya respon
pasif masyarakat dan
keterkaitannya dengan latar
belakang masyarakat. 3. Teridentifikasinya respon
aktif (tindakan) masyarakat
serta dorongan dan hambatan
institusional dan non-
institusional.
4. Terumuskannya rekomendasi yang dapat
menjadi masukan dalam
pengorganisasian tindak
kolektif masyarakat bagi
perbaikan lingkungan
perdesaan yang bertanggung jawab. 1.6. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan
bermanfaat bagi pengelolaan
lingkungan di Kawasan
Bandung Selatan maupun
Kabupaten Bandung pada
umumnya. Pembelajaran yang muncul diharapkan dapat
menjadi sumber inspirasi bagi
wilayah lain yang memiliki
karakteristik serupa. Selain
itu, penelitian ini juga
diharapkan dapat bermanfaat untuk pengembangan konsep
akademis di bidang
pengelolaan lingkungan. 1.7. Ruang Lingkup
Wilayah Kawasan Bandung Selatan
berada dalam wilayah
administrasi Kabupaten
Bandung. Kawasan Bandung
Selatan ini terdiri atas 18
Kecamatan, tetapi yang akan menjadi ruang lingkup
wilayah studi ini adalah
Kecamatan Pangalengan
Pemilihan Kecamatan
Pangalengan ini berdasarkan
pertimbangan kondisi lingkungannya yang masih
bercirikan perdesaan dan
sering mengalami masalah
lingkungan perdesaan seperti
banjir, erosi dan limbah
ternak. Sebagai sampel akan diambil tiga desa yang
memiliki kompleksitas
masalah lingkungan
perdesaan. 1.8. Kerangka Pikir Studi Wilayah Bandung Selatan
merupakan wilayah pertanian
potensial yang berada di
sebelah selatan Kabupaten
Bandung. Wilayah ini memiliki
masalah lingkungan perdesaan yang cukup kompleks akibat
tekanan jumlah penduduk
dan tingginya intensitas
kegiatan ekonomi
masyarakat. Penurunan
kualitas lingkungan ini tentunya memerlukan upaya
perbaikan dari masyarakat
baik secara individual maupun
kolektif. Tindakan yang
pernah dilakukan oleh
masyarakat selama ini belum mampu menyelesaikan
masalah lingkungan perdesaan
karena masyarakat belum
mampu mengarahkan
tindakan mereka ke arah
perbaikan lingkungan. Tindakan merupakan bentuk
respon yang muncul sebagai
akibat adanya stimulus. Dalam
konteks lingkungan
perdesaan, masalah
lingkungan merupakan stimulus bagi masyarakat
untuk berperilaku. Bentuk
respon yang muncul tersebut
bisa bersifat pasif berupa
pengetahuan masyarakat
tentang lingkungan dan kesediaan untuk bertindak
maupun bersifat aktif berupa
tindakan. Respon yang
muncul merupakan resultansi
dari pengaruh kondisi internal
dan eksternal masyarakat.


http://gudangmakalah.blogspot.com/2011/03/tesis-perilaku-masyarakat-terkait.html

Selasa, 05 April 2011

(KODE PTK-0052) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN DENGAN METODE KOOPERATIF INTEGRASI MEMBACA DAN KOMPOSISI (CIRC) (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Membaca adalah modal bagi
seseorang untuk mempelajari
buku dan mencari informasi
tertulis. Membaca bagi seorang
siswa juga menjadi modal
agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran. Selain
membaca, menulis juga harus
dikuasai oleh siswa agar siswa
dapat mengikuti
pembelajaran dengan lancar.
Karena itu, kemampuan membaca dan menulis bagi
siswa menjadi modal utama
untuk dapat mengikuti
kegiatan belajar mengajar
atau kegiatan pembelajaran.
Membaca dan menulis merupakan dasar bagi
seseorang untuk dapat
melakukan komunikasi secara
tertulis. Komunikasi
merupakan satu hal yang
penting bagi manusia untuk dapat tetap bertahan hidup
dan bermasyarakat. Tanpa
komunikasi, maka manusia
tidak akan dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya sendiri.
Karena itulah maka komunikasi sangat penting
bagi manusia dalam menjalani
hidup di dunia ini. Salah satu
bekal untuk dapat
berkomunikasi tersebut
manusia harus dapat membaca dan menulis.
Kemampuan membaca dan
menulis tersebut
dimaksudkan untuk dapat
memahami bahasa
komunikasi. Bahasa merupakan salah satu alat
untuk berkomunikasi dan
sangat besar fungsinya.
Karena pentingnya membaca
dan menulis, maka hal
tersebut diajarkan kepada siswa di sekolah. Dengan
belajar dan menulis, maka
siswa akan dapat melakukan
komunikasi dalam kehidupan
sosialnya sehari-hari.
Pentingnya kemampuan membaca dan menulis bagi
siswa menjadikan
pembelajaran membaca dan
menulis menjadi pelajaran
paling awal yang harus diikuti
oleh siswa. Karena itu, pelajaran membaca dan
menulis permulaan
dimasukkan dalam kurikulum
sekolah dasar pada kelas I.
Namun demikian, adanya
tuntutan jaman yang semakin canggih dan cepat, pelajaran
membaca dan menulis telah
dikenalkan kepada para
peserta didik di TK. Hal ini
tentunya akan mempengaruhi
kemampuan membaca dan menulis permulaan siswa
ketika masuk ke sekolah
tingkat dasar.
Pembelajaran membaca dan
menulis permulaan
merupakan bagian dari pembelajaran bahasa. Bahasa
merupakan alat penting bagi
manusia untuk komunikasi
(Gorys Keraf, 980: 1). Selain
itu, bahasa merupakan sarana
berpikir keilmuan (Herman J Waluyo, 2006: 30). Sebagai
sarana komunikasi dan juga
sebagai sarana berpikir
keilmuan, maka bahasa
menjadi vital dan penting
untuk dipelajari. Pembelajaran bahasa dimulai dari
pembelajaran membaca dan
menulis.
Kurikulum sekolah di
Indonesia saat ini, yaitu
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006: 22) di
dalamnya mencantumkan
pelajaran bahasa Indonesia
sebagai salah satu mata
pelajaran wajib. Sebagai
pelajaran wajib, maka semua siswa mendapatkan
pembelajaran bahasa
Indonesia. Pembelajaran
bahasa Indonesia bertujuan
agar peserta didik memiliki
kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien
sesuai dengan etika yang
berlaku, baik secara lisan
maupun tertulis.
Pembelajaran di sekolah
memerlukan pengelolaan yang baik agar dapat
diperoleh pembelajaran yang
efektif. Pembelajaran yang
efektif adalah suatu
pembelajaran yang
memungkinkan siswa untuk belajar keterampilan spesifik,
ilmu pengetahuan, dan sikap
serta membuat siswa senang
(Dick E Reiser, 1998).
Sementara itu Dunne & Wragg
(1996) menjelaskan bahwa pembelajaran efektif
memudahkan siswa belajar
sesuatu yang bemanfaat
seperti fakta, keterampilan,
nilai, konsep, cara hidup serasi
dengan sesama, atau sesuatu hasil belajar yang diinginkan.
Karena itulah untuk dapat
memperoleh pembelajaran
yang efektif guru harus dapat
mengelola kegiatan belajar
mengajar dengan sebaik- baiknya, yaitu kegiatan
belajar yang aktif, kreatif,
dan menyenangkan. Hal ini
sebagaimana dikemukakan
oleh A Malik Fajar bahwa
secara umum KBM di sekolah harus menyenangkan,
mengasikkan, mencerdaskan,
dan menguatkan daya pikir
siswa, yang berpedoman pada
tujuan, sehingga KBM akan
lebih efektif (pengelolaan KBM, 2003. 1).
Pembelajaran yang efekti
merupakan pembelajaran
yang dilakukan untuk dapat
meningkatkan mutu
pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan saat ini
merupakan suatu hal yang
segera harus dilakukan.
Mengingat mutu pendidikan
saat ini mulai menurun,
terutama pendidikan moral yang dapat dilihat dari hasil
pendidikan yang saat ini
banyak yang tidak memiliki
moral. Banyaknya pejabat
yang melakukan tindakan
amoral merupakan salah satu petunjuk bahwa pendidikan
di Indonesia belum
memperoleh hasil
sebagaimana yang
diharapkan. Rendahnya mutu
pendidikan dikarenakan oleh kegiatan pendidikan yang
tidak berkualitas. Untuk dapat
menghasilkan lulusan yang
berkualitas, maka hal tersebut
hanya dapat dihasilkan
melalui pendidikan yang berkualitas juga (Umaedi,
1999: 1).
Pembelajaran bahasa
Indonesia hingga saat ini
belum menampakkan hasil
yang maksimal. Banyak siswa yang tidak dapat
menggunakan bahasa
Indonesia dengan baik dan
benar. Dapat dilihat di
beberapa jenjang pendidikan
termasuk pendidikan tinggi, bahkan para lulusan
perguruan tinggi sering
melakukan kesalahan dalam
menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan
benar. Kesalahan penggunaan bahasa Indonesia sering
terlihat pada kegiatan
menulis. Rendahnya
kemampuan lulusan sekolah
dalam menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar dikarenakan
pembelajaran bahasa
Indonesia yang kurang
berhasil.
Kurangnya keberhasilan
pembelajaran bahasa Indonesia dikarenakan guru
tidak melakukan pengelolaan
kegiatan pembelajar mengajar
sebagaimana mestinya. Perlu
diketahui bahwa dalam
kegiatan pembelajaran, terdapat tiga aspek dalam
pembelajaran (Lindgren, 1976).
Ketiga aspek tersebut,
pertama, siswa yang
merupakan faktor yang
paling penting karena tanpa siswa tidak akan ada proses
belajar. Kedua, proses belajar
yaitu apa saja yang dihayati
siswa apabila mereka belajar,
bukan apa yang harus
dilakukan pendidik untuk mengajarkan materi pelajaran
melainkan apa yang
dilakukan siswa untuk
mempelajarinya. Ketiga,
situasi belajar, yaitu
lingkungan temapt terjadinya proses belajar dan semua
factor yang mempengaruhi
siswa atau proses belajar
seperti pendidik, kelas dan
interaksi di dalamnya.
Pembelajaran bahasa dimulai dari membaca dan menulis.
Pembelajaran membaca dan
menulis dimulai sejak anak
masuk di kelas I sekolah
dasar. Dalam hal ini, siswa
belajar membaca dan menulis permulaan. Belajar membaca
dan menulis permulaan yaitu
belajar mengenal huruf, bunyi
huruf, merangkai huruf
menjadi suku kata, merangkai
suku kata menjadi kata, dan akhirnya merangkai kata
menjadi kalimat.
Pembelajaran membaca dan
menulis permulaan pada siswa
kelas I dimaksudkan agar
siswa dapat memiliki keterampilan membaca dan
menulis. Keterampilan
membaca dan menulis dalam
hal ini merupakan
keterampilan dalam tingkat
dasar, yaitu siswa dapat membaca dan menulis dengan
lancar.
Agar keterampilan membaca
dan menulis permulaan pada
siswa SD dapat dilakukan
dengan baik serta diperoleh hasil yang maksimal,
diperlukan suatu strategi
pembelajaran yang efektif
dan efisien. Mengingat
pentingnya pelajaran
membaca dan menulis permulaan sebagai dasar
untuk memperoleh ilmu
pengetahuan, maka perlu
diupayakan suatu alternatif
strategi pembelajaran bahasa
Indonesia, khususnya dalam pembelajaran membaca dan
menulis permulaan di SD yang
tepat. Keluhan tentang
kekurang terampilan siswa
dalam membaca dan menulis
di SD pada pelajaran bahasa Indonesia sampai saat ini
masih dirasakan, bahkan
dalam kenyataan ada keluhan
guru yang mengajar di kelas
II dan III SD masih ada siswa
yang belum dapat membaca dan menulis. Banyak faktor
yang mempengaruhi keadaan
tersebut, namun utamanya
adalah dalam pembelajaran
membaca dan menulis
permulaan. Keberhasilan pembelajaran membaca dan
menulis permulaan
memerlukan dukungan dari
beberapa faktor, antara lain
adalah faktor keluarga,
fasilitas, motivasi, dan terutama adalah metode
pembelajaran yang sesuai.
Kemampuan membaca dan
menulis permulaan pada siswa
kelas I yang berada di daerah
perkotaan dan pedesaan tentunya juga memiliki
perbedaan. Kasus yang sama
juga dapat terjadi antara
sekolah dengan tingkatan
menengah atas dengan
sekolah pada tingkatan menengah bawah. Hal ini
tentunya dapat menjadi
perhatian tersendiri bagi pada
praktisi pendidikan. Karena
itu, sangat perlu dilakukan
penelitian agar gap atau jarak antara sekolah dengan
kategori menengah atas
dengan menengah bawah
tidak telalu jauh.
Berbagai metode dan
pendekatan pembelajaran membaca dan menulis
permulaan pada siswa kelas I
cukup banyak. Banyaknya
metode tersebut tentunya
memerlukan kemampuan
guru untuk memilih metode yang paling sesuai dengan
situasi dan kondisi. Karena
setiap metode memiliki
kelebihan dan kelemahan
yang berbeda-beda. Karena
itulah maka guru harus dapat memahami kelasnya masing-
masing agar dapat memilih
metode yang tepat untuk
kelasnya.
Siswa kelas I di Sekolah Dasar
Negeri X selama ini masih memiliki kemampuan menulis
dan membaca yang rendah.
Hal ini dapat disebabkan oleh
berbagai faktor. Salah satu
faktor yang mungkin
mempengaruhi rendahnya kemampuan siswa tersebut
adalah pada metode
pembelajaran yang digunakan
guru selama ini. Oleh karena
itu, perlu dilakukan
eksperimen atau tindakan pembelajaran dengan metode
yang berbeda. Salah satu
metode yang dapat
digunakan untuk
meningkatkan kemampuan
membaca dan menulis permulaan adalah dengan
metode pembelajaran
kooperatif Integrasi Membaca
dan Komposisi (CIRC). Karena
itulah maka penelitian ini
dilakukan untuk mencoba menggunakan metode
pembelajaran kooperatif
Integrasi Membaca dan
Komposisi (CIRC) dalam
pembelajaran membaca dan
menulis permulaan bagi siswa kelas I Sekolah Dasar. B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah di atas, maka dapat
dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
1. Bagaimanakah penerapan metode pembelajaran
kooperatif Integrasi Membaca
dan Komposisi (CIRC) dalam
upaya meningkatkan
kemampuan membaca dan
menulis permulaan pada siswa kelas I SD Negeri X?
2. Apakah penerapan metode
pembelajaran kooperatif
Integrasi Membaca dan
Komposisi (CIRC) dapat
meningkatkan kemampuan membaca dan menulis
permulaan pada siswa kelas I
SD Negeri X? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah
di atas, maka tujuan penelitian
ini adalah untuk:
1. Mendeskripsikan dan
menjelaskan penerapan
metode pembelajaran kooperatif Integrasi Membaca
dan Komposisi (CIRC) dalam
upaya meningkatkan
kemampuan membaca dan
menulis permulaan pada siswa
kelas I SD Negeri X. 2. Meningkatkan kemampuan
membaca dan menulis
permulaan dengan penerapan
metode pembelajaran
kooperatif Integrasi Membaca
dan Komposisi (CIRC) pada siswa kelas I SD Negeri X. D. Manfaat Penelitian Sesuai dengan tujuan
penelitian, maka penelitian ini
diharapkan memiliki manfaat
sebagai berikut:
1. Bagi siswa
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
meningkatkan kemampuan
membaca menulis permulaan.
b. Hasil penelitian diharapkan
dapat meningkatkan
keaktifan, motivasi, minat, dan partisipasi siswa dalam
kegiatan pembelajaran.
2. Bagi guru
a. Hasil penelitian dapat
menjadi wawasan bagi guru
dalam menggunakan metode pembelajaran kooperatif
Integrasi Membaca dan
Komposisi (CIRC).
b. Hasil penelitian dapat
menjadi bahan inspirasi untuk
menentukan metode lain dalam melakukan kegiatan
belajar mengajar.
3. Bagi sekolah
Bagi sekolah diharapkan dapat
digunakan untuk
meningkatkan prestasi sekolah secara keseluruhan.